Sekadar Mampir

"Seperti halnya pengendara sepeda yang beristirahat sejenak di bawah naungan rindang pepohonan, begitulah kehidupan di dunia ini"

Karena kita hidup hanya sementara, karena kehidupan di dunia ini hanya sekejap saja, karenanya bekal harus dipersiapkan untuk perjalanan menuju kehidupan sebenarnya... karena kita hanya... "sekadar mampir"...

Sunday, November 16, 2014

Tentang #negeri1000pelangi

1. Apakah #negeri1000pelangi itu ?
 
Tanda Pagar 'hashtag' (#) "negeri1000pelangi" adalah suatu topik di jejaring media sosial untuk saling berbagi foto pemandangan pelangi di seluruh penjuru Indonesia, disertai dengan informasi keterangan lokasi, dan dapat juga ditambahkan kalimat harapan optimis, maupun kata-kata motivasi bagi diri sendiri maupun saudara sebangsa dan satu tanah air.

 
2. Mangapa ada topik #negeri1000pelangi ?
 
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan tropis di daerah khatulistiwa, memiliki tingkat curah hujan dan intensitas sinar matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun, memungkinkan banyak ditemuinya pemandangan pelangi yang indah di sepanjang nusantara.
Pelangi yang berwarna-warni juga dapat melambangkan betapa Indonesia kaya akan beraneka ragam budaya, suku bangsa dan adat istiadat.
Topik #negeri1000pelangi hadir di saat isu perpecahan dan sikap pesimistis terhadap bangsa ini kerap dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak ingin negeri ini maju. Topik ini menjadi pengingat semboyan dalam lambang negara kita "Bhinneka Tunggal Ika", yang artinya, walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Topik ini menyeru kita untuk menjadikan perbedaan sebagai kekayaan dan kekuatan positif untuk berkarya, berprestasi membangun negeri.

 
3. Kapan topik #negeri1000pelangi ini pertama kali dimunculkan?
 
Topik #negeri1000pelangi pertama kali tercetus di benak penulis saat mengenang jasa perjuangan para pahlawan yang telah mewujudkan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan (Peringatan Hari Pahlawan, Senin 10 November 2014), kemudian dimunculkan di jejaring media sosial satu minggu kemudian.
 
 
 
4. Dimana topik #negeri1000pelangi ini dapat dibuka, dilihat dan dibahas?
 
Topik ini dapat dibahas dan disebarkan di semua jejaring media sosial yang memungkinkan berbagi gambar (foto pemandangan pelangi), seperti aplikasi 'Sebangsa' , 'Facebook' , 'Twitter' , 'Path' , 'Instagram', dsb.
 
 
 
5. Bagaimana caranya untuk bergabung dan berkontribusi dalam topik #negeri1000pelangi ?
 
Seperti layaknya cara saling berbagi pesan, status, maupun foto di jejaring media sosial. Kita hanya perlu mengunggah foto pemandangan pelangi hasil jepretan kita sendiri (hindari pelanggaran hak cipta), kemudian sertakan keterangan 'hashtag' #negeri1000pelangi berikut informasi lokasi pengambilan foto dan dapat juga ditambahkan kalimat harapan atau kata-kata positif / motivasi bersamanya.
 
 
 
 
Salam kenal, salam sayang,
salam persatuan,
untuk semua warga #negeri1000pelangi.
 
 
Tangerang, 16 November 2014.
@safehero

Saturday, October 15, 2011

"Nasi Merah - Punclut" - Day-14 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)


"Nasi Merah - Punclut"
Friday, October 14th, 2011

Punclut yang merupakan singkatan dari Puncak Ciumbuleuit, adalah satu daerah dataran tinggi di Kawasan Bandung Utara yang terkenal sebagai penghasil tanaman sayuran. 
Lokasi kawasan Punclut yang menanjak & berbukit sering digunakan olah penduduk Bandung untuk berolahraga jalan santai, jogging, hingga bersepeda. Bahkan di bagian puncaknya, dimana pusat pemancar radio RRI berada, terdapat areal yang ditujukan untuk track motor cross.


 

Di lokasi itu pula lah terdapat berbagai warung makaan dengan sajian khas nasi merah yang kaya akan Vitamin-B. 

Di tengah dinginnya udara Bandung Utara, hangatnya beras merah ditambah berbagai lauk seperti ayam goreng, ikan mas bakar, tahu tempe, dan aneka pepes akan terasa sangat nikmat. 
Tak lupa lalapan dan sambal pedasnya yang semakin menggugah selera. 

Jika kebetulan anda berkunjung ke Kota bandung, sempatkanlah untuk mengunjungi kawasan Puncak Ciumbuleuit ini, dan cobalah hidangan nasi merahnya, dijamin anda tidak akan menyesal.

"King Chef with KayPanGers" - Day-13 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)


"King Chef with KayPanGers"
Wednesday, October 12th, 2011


KayPang adalah kumpulan rekan-rekan kerja satu kantor yang sering menghabiskan waktu bersama dalam melepaskan diri dari stress karena pekerjaan dan kepenatan di kantor.

Dengan tetap memegang teguh prinsip 'proletar' agar selalu economically-wise, membuat kami memiliki beberapa kesamaan, yakni suka yang 'gratis'an, diskon, promo, dan hal-hal lain yang bisa meng'hemat' ^_^

Nama KayPang sendiri diusulkan oleh salah satu anggota kami, terinspirasi dari nama perguruan / kumpulan pendekar dari kalangan pengemis pada film legendaris Yoko dalam "Return of The Condor Heroes".

Kesamaan lain adalah kesukaan kami pada dunia tarik suara (walaupun suara fals bagai atlet tarik-tambang yang tercekik tali tambang di lehernya) ;p Namun itu tidak menyurutkan semangat kami untuk berkaraoke bersama.


Beberapa kali kami menghabiskan waktu untuk makan bersama di salah satu resto yang berlokasi di Plaza Semanggi, "King Chef", selain lokasinya yang cukup dekat dengan kantor, ternyata tempat makan yang satu ini menawarkan hidangan Chinese-Seafood yang cukup enak di lidah maupun di kantong.





Sapi lada hitam nya cukup sesuai di lidah saya, hidangan lain yang cukup menggugah selera adalah TomYam, Ayam Lemon-Madu, Bebek Pecking, Udang Goreng Gandum, Aneka Kepiting dan Kailan. Sebenarnya menu siomay dim-sum nya cukup terkenal juga, namun saya sendiri belum sempat mencobanya.


Biasanya, setelah makan bersama kami lanjuut karaokean sampai habis suara & tenggorokan meradang menyanyikan lagu yang sangat bervariasi dan playlist yang 'komplikasi', mulai dari lagu HipHop R&B, tembang lawas angkatan lama, ballads, Korean-Mandarin, mellow-gundah-gulana karena C-I-N-T-A, rocks-metal, sampai dangduut.. "kemanaaaaa..kemanaaa!!"... #Gaya Ayu Ting2



KayPang... Rocks!!!

"Sate Ayu - Bojonegoro" - Day-11 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)


"Sate Ayu - Bojonegoro"
Tuesday, October 11th, 2011

Masih seputar wisata kuliner di daerah Bojonegoro. Kali ini penulis ingin bercerita mengenai tempat makan hasil rekomendasi seorang teman yang bertugas di Lapangan Cepu. Dia menawarkan ajakan menjajal hidangan sate kambing khas Bojonegoro, warung sate "Ayu Mbaru" yang berlokasi di Jalan Raya Cepu-Bojonegoro, Padangan, Jawa Timur.

Rumah makan sederhana ini terletak di dekat rel kereta api, di sebuah rumah tinggal yang kemudian garasi dan halaman depannya dialih-fungsikan menjadi rumah makan. Sate kambing adalah menu andalannya, yg terkenal empuk dan enak dengan bumbunya yang kuat meresap.








Pengunjung bisa memilih jenis sate yg dihidangkan, apakah memilih dengan gajih (yg mengandung lemak) atau full-daging only, maupun dikombinasikan dengan ati. Beberapa orang memang menganggap sisipan 'gajih' dalam tusuk sate menambah gurih sate kambing yg dimakan, namun bagi beberapa orang yang sangat menjaga diri dari konsumsi makanan berlemak, tentu saja akan menghindarinya. Pengunjung juga bisa memesan gulai kambing untuk melengkapi menu sate nya.

Secara keseluruhan, memang sate kambing di "Sate Ayu" ini agak berbeda, terutama bumbu kecap dan kacangnya yg mungkin sudah diberi paduan bumbu lokal, sehingga rasa yang dominan adalah manis-pedas.
Daging kambing mudanya cukup empuk dan benar2 gurih, sate dibakar 'well-done' hingga benar2 matang dan sedikit garing sesuai permintaan.

Saran penulis, ketika makan sate disini, sebaiknya anda didampingi orang-orang tersayang anda yang senantiasa mengingatkan agar tidak mengkonsumsi sate kambing berlebihan, karena jika tak dikendalikan, anda akan "nambaah.. lagii... lagii.. dan lagiii... "

Monday, October 10, 2011

"Ayam Bakar Bumbu Rujak - Warung Apung" - Day-10 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)

"Ayam Bakar Bumbu Rujak - Warung Apung"
Monday, October 10th, 2011




Jika saya melakukan tugas lapangan ke Cepu, biasanya saya menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Makan "Warung Apung" di Bojonegoro.
Lokasinya cukup strategis, tepat di tepi jalan utama antar kabupaten, dan tidak jauh dari pusat kota.

Guna lebih menarik minat dan rasa penasaran pengunjung, Rumah Makan ini dengan bangga memasang tagline "Ayam Bakar Terdahsyat di Dunia" (untungnya tidak ditambah embel-embel "dan Akhirat". 



Konsep bangunan dan desain ruangannya cukup unik. Pengunjung disuguhi suasana alam pedesaan, lasehan dalam saung/gubuk beratap jerami di atas kolam ikan. 
 Penataan lampu dan hiasan tanaman serta bunga yang cukup indah, membuat tempat ini cocok untuk acara makan bersama keluarga ataupun bagi pasangan yang mencari susana romantis di kampung halaman. 
Sayangnya, semarak serangga sejenis laron yang berkerumun mendekati sumber cahaya, kadang turut meramaikan jamuan makan malam pengunjung. Mungkin bagian dari suguhan atraksi untuk menguatkan kesan alami.



Ayam bakar bumbu rujaknya sangat khas, memiliki perpaduan rasa manis pedas yang akan memanjakan lidah penikmatnya. 
Ada juga beberapa menu unggulan lain seperti Gurame asam-manis, Tahu pong, yang dapat ditutup dengan berbagai hidangan pencuci mulut, seperti berbagai jenis es campur dan varian jus buah.

Jadi, jika anda kebetulan melewati daerah Bojonegoro, tempat ini adalah rumah makan yang layak dikunjungi dan jangan sampai terlewatkan.

Sunday, October 9, 2011

"Sambal Khas Rumah Makan Ampera" - Day-9 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)

Sambal Khas Rumah Makan "Ampera"
Sunday, October 9th, 2011



Memiliki lidah Sunda tentunya membuat saya tak bisa dipisahkan dengan sambal dan lalapan dalam menu makanan. Dan sambal terasi khas ala Rumah Makan "Ampera" adalah salah satu yang paling terkenal enak dan saya sukai. Sambalnya terdiri dari banyak ragam dan bermacam, mulai dari yang manis-agak pedas (sambal kecap), pedas-sedang, hingga yang pedas “pisan" (alias sangat pedas).





Dipadu dengan lalapan dedaunan dan sayuran segar, sambal "Ampera" siap menemani dan menjadikan semua hidangan menjadi lebih nikmat mulai dari ayam dan ikan bakar maupun goreng, tahu-tempe, perkedel kentang, dendeng serta gepuk daging sapi dan lain sebagainya.

"Kereta Senja" - Day-7 Gerakan 30 Hari Menulis (G30HM)

Kereta Senja
Friday, October 7th, 2011 


Hari Jum'at, hari kerja terakhir di pekan ini, hari saat jalanan kota akan lebih padat dari biasanya. Hari dimana perjalanan kereta listrik (perkeli) biasanya mengalami gangguan atau keterlambatan. 

Aku pun sudah menyiapkan mental menghadapi segala kemungkinan itu, walau fisik terasa sangat lelah setelah satu minggu penuh ini pekerjaan di kantor sangat menyita beban pikiran, tenaga, dan waktu sampai kadang aku harus lembur hingga larut malam. 




Kereta api listrik merupakan moda alternatif pilihan utama ku dari dan menuju tempat tinggal di kota satelit yang berjarak sekira 30 km dengan kantor yang terletak di pusat ibukota. 

Terhindar dari kemacetan lalu lintas jalan, itulah alasan utamaku memilihnya, meski masih banyak kekurangan di sana sini, seperti seringnya terjadi gangguan persinyalan dan jalur rel, aliran listrik yang tidak stabil, yang berakibat keterlambatan jadwal, pendingin ruangan dalam kereta yang tidak berfungsi, dan yang pasti jumlah kapastias armada yang terbatas, sehingga penumpang harus berjejal penuh sesak di dalam kereta. 

Tapi dengan sekelumit problematika itu, aku tetap lebih memilih kereta. Menurutku masih lebih baik berdiri berhimpitan selama 30-40 menit dalam kereta daripada harus duduk di kendaraan menghadapi kemacetan berjam-jam.



Hari itu aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor, karena pekerjaan sudah rampung dan beberapa hari berturut-turut aku sudah kerja lembur hingga larut malam untuk menyelesaikannya. Stasiun kereta di siang menjelang sore hari nampak masih lenggang, senangnya pulang di saat jam kantor pada umumnya belum bubar, penumpang belum ramai.

Benar saja, saat kereta pulang ku tiba dan pintu terbuka, isi kereta masih nampak lenggang, banyak ruang dan tempat duduk tersedia. Duduk di KRL (Kereta Listrik), adalah suatu kemewahan yang luar biasa. 

Senangnya hatiku, langsung saja kupilih tempat duduk yang masih lega dan serta merta menyandarkan punggung bak seorang raja. Seandainya setiap hari bisa kunikmati pemandangan senja dari kereta sore yang lenggang seperti ini, anganku melayang.

Kupejamkan mata sesaat berusaha menikmati kenyamanan ini, sambil tersenyum perlahan kubuka mata. Untung saja tidak ada yang memperhatikan, jika tidak seseorang bisa saja menganggapku memiliki gangguan kejiwaan.

Kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun. "Tepat waktu !" ujarku, sambil melayangkan pandangan ke sekelilingku. Ketepatan waktu perkeli di hari Jum'at adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Terdapat pemandangan unik yang tak setiap hari kutemui. Kulihat sepasang kakek dan nenek di hadapanku duduk berdekatan dan saling berpelukan.



Akupun terenyuh, MahaSuci Tuhan yang telah menciptakan kasih sayang suci antar sesama manusia. Sepasang suami istri yang hingga lanjut usia masih selalu bersama. 

Bahasa tubuh mereka, gerak gerik mereka, seakan menggambarkan bahwa mereka itu satu, layaknya Siti Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, begiu pula sang nenek yang seakan menyiratkan bahwa ia adalah bagian tulang rusuk sang kakek, mereka menyatu dan seakan tak terpisahkan, diciptakan oleh Yang Satu, Sang Khalik Yang Maha Menciptakan.

Lama kuperhatikan pasangan lansia itu, hingga tak terasa kereta sudah mendekati  stasiun tempat pemberhentianku. Sang kakek-nenek nampak masih duduk bersama, aku pun beranjak dari tempat duduk kemudian berdiri tepat di depan pintu di samping mereka, lalu ku sapa sejenak, hanya memastikan bahwa pemberhentian mereka tak terlewat.

"Stasiun Rawa Buntu ya Kek ?!" tanya ku

"Iya, nak.. turun di sini ?" tanyanya ramah.

"Iya, kek.. kakek dan nenek turun di mana ?"

"Kami turun di stasiun Serpong" jawabnya, sambil melirik pada sang nenek dan dibalas anggukan, yang cukup meyakinkan bahwa mereka sudah tau arah tujuan dan pemberhentian di stasiun berikutnya. 

"Kami dari Bogor, mau nengok putra dan cucu kami di Serpong, Nak"  lanjutnya lagi.


"Alhamdulillah yah, kakek sama nenek masih sehat!" jawabku singkat, karena kereta sudah benar-benar berhenti dan pintu pun terbuka.


"Hati-hatii yaaa, Assalammu'alaikum !"  salam ku.


"Iyaa, wa'alaikumsalam" balas mereka.



Aku tutup perjalanan hari itu dengan ucapan syukur keselamatan di perjalanan beserta do'a, semoga kelak Allah Swt. mengkaruniakan cinta kasih suci sejati padaku dan pasanganku, yang tak hanya saling memberi dan menerima hingga lanjut usia seperti pasangan tadi, namun juga dipertemukan di tempat terindah di akhirat kelak.

Amiin.